Laman

Inilah Diriku

Inilah Diriku

Selasa, 28 September 2010

BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN (BALITSA)

BALAI PENELITIAN TANAMAN SAYURAN (BALITSA)

Sejarah Singkat
Balai Penelitian Tanaman Sayuran atau lebih dikenal dengan sebutan Balitsa, merupakan salah satu lembaga pemerintah dan unit pelaksana teknis Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian yang berada dibawah serta bertanggung jawab langsung kepada Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian Hortikultura. Lembaga tersebut terletak dikaki Gunung Tangkuban Perahu, Lembang, Bandung. Dengan ketinggian 1250 diatas permukaan laut (Dpl). Dilihat dari segi geologisnya, jenis tanah dikawasan tersebut merupakan tanah andosol yang dipengaruhi oleh tipe iklim B dengan suhu rata-rata harian berkisar antara 19-24° C serta curah hujan 2.207,5 mm/tahun.
Lembaga ini didirikan pada tahun 1939 oleh Pemerintah Belanda dengan tujuan untuk mendukung dibidang Pertanian dan Perkebunan. Nama lembaga ini adalah Prust Trein sebagai Kebun Percobaan Tanaman Serta Pemberantasan Hama Penyakit (Institut Voor Plants Richten) yang berpusat di Bogor. Sejak awal, lembaga ini sudah melakukan banyak penelitian untuk meningkatkan kualitas dan kwantitas berbagai jenis tanaman. Namanya pada saat itu adalah Balai Penelitian Tehnik Pertanian ( Culture Institute) yang kemudian pada
tahun 1942-1945 berubah menjadi Culture Technish Institute ( Burten Norg Bogor) atau Kebun Percobaan Margahayu yang menjadi Prust Trein Margahayu.
Pada sekitar tahun 1945-1950 pemerintah sedang berada dalam keadaan vakum sehingga menyebabkan kevakuman juga terhadap lembaga ini. Kemudian pada tahun 1950-1960 lembaga ini berganti nama kembali menjadi Kebun Percobaan Margahayu yang berpusat di pasar Minggu Jakarta Selatan dan mulai melakukan kegiatannya kembali. Pada sekitar tahun 1967-1980 lembaga ini dijadikan sebagai salah satu cabang Lembaga Penelitian Hortikultura
sehingga pada tanggal 20 Maret 1981 namanya kembali berubah menjadi Lembaga Penelitian Tanaman Pangan ( BPTP). Pada tanggal 31 Juli 1982 Menteri Pertanian RI yaitu, Prof. Ir. Sudarsono Hadisaputra meresmikan BPTP menjadi Balai Penelitian Hortikultura (BPHL) di
Lembang Bandung. BPHL pada saat itu terdiri dari satu Sub bagian Tata Usaha, satu Sub bagian Penelitian Hortikultura Segunung dan Kelompok Peneliti ( Kelti) disamping itu juga membawahi langsung Instalasi-instalasi Kebun Percobaan Lembang, Cikole, Pangragajian dan Margahayu Kabupaten Bandung dan kabupaten Subang, Laboratorium dan Bengkel Peralatan.
Berdasarkan keputusan Menteri No. 769 Kep/OT.210/XII/ 90 pada tanggal 13 Desember 1994 Balai Penelitian Hortikultura Lembang berubah menjadi Balai Penelitian Tanaman Sayuran ( Balitsa) yang mengalami perubahan tugas lebih khusus ditujukan untuk meneliti Tanaman Sayuran. Dan terakhir pada tahun 2002 mendapat perubahan mandat sesuai Keputusan Menteri Pertanian No.74 Kep/OT.240/I/2002, tentang organisasi dan Tata Kerja Balitsa yang terdiri dari Sub bagian Tata Usaha, Seleksi Pelayanan Teknis, Seksi Jasa Penelitian, Satu Kebun Percobaan Subang.
Visi dan Misi Balitsa
Visi Balitsa dalam mengembangakan eksistensinya dalam agribisnis adalah:
1.Membentuk dan membangun lembaga yang responsif, antisipatif dan parsipatif didalam pengembangan rekayasa, ilmu pengetahuan dan teknologi
2.Untuk mewujudkan sisi Agribisnis Tanaman Sayuran yang berkelanjutan dan terdesentralisasi. Misinya adalah:
a)Pengembangan tanaman Sayuran berbasis pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM)
b)Membangun sinergi dengan masyarakat dalam pengembangan Agribisnis.
Struktur Organisasi Balitsa
Pada tahun 2002 Balitsa mendapatkan mandat kembali tentang Organisasi dan Tata Kerja Balitsa sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor. 74 Kep/OT.240/I/2002. Organisasi dan Tata Kerja Balitsa tersebut terdiri dari: Sub bagian Tata Usaha, Seksi Pelayanan Teknis, Seksi Jasa Penelitian, Satu kebun Percobaan Percobaan Subang. Berdasarkan mandatnya Balitsa memiliki fungsi dalam menyelenggarakan:
Penelitian genetika, pemuliaan, pembenihan dan pemanfaatan plasma nutfah Tanaman Sayuran
Penelitian morfologi, fisiologi, ekologi, entomologi dan fitopatologi Tanaman Sayuran.
Penelitian komponen teknologi sistem dan usaha agribisnis Tanaman Sayuran.
Pelayanan tehnik kegiatan penelitian tanaman sayuran. Adapun arah dan stategi program penelitian yang dilakukan Balitsa terhadap tanaman sayuran yaitu:
Menghasilkan teknologi efektif dan dapat diterapkan
Berorientasi agribisnis
Menjawab, mengantisipasi dan menciptakan kebutuhan pengguna
Memanfaatkan sumber daya alam secara optimal
Memanfaatkan peta informasi global
Mengakomodasikan semua potensi internal untuk mengantisipasi persaingan global
Mengembangkan jaringan kerja sama nasional dan internasional.
Lembang, kota kecamatan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, merupakan daerah wisata yang menawarkan suasana alami yang indah dan udara pegunungan yang sejuk. Tidak mengherankan jika kota ini sering disinggahi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam, dan sebagian besar akan membeli sayuran serta buah-buahan sebagai oleh-oleh.
Jarak dari Bandung tidak jauh. Hanya 20 km. Juga dari Jakarta. Sekitar dua jam tiga puluh menit. Melewati jalan tol Cikampek, Subang, terus menuju ke Lembang. Pemadangannya juga asri sepanjang jalan dengan udara yang sejuk.Dengan didukung udara sejuk dan berada pada ketinggian 1.250 meter di atas permukaan laut, Lembang merupakan daerah yang berpotensi untuk menghasilkan sayuran. Begitu banyak jenis sayuran yang diproduksi di kawasan Lembang sehingga daerah ini sangat dikenal dengan produk sayuran dataran tingginya. Jika datang ke daerah ini, kita bisa menjumpai tanaman sayuran seperti kentang, cabai merah, bawang merah, tomat, buncis, kacang panjang, jamur, terong, mentimun, dan sayuran tropis asli Indonesia lainnya. Setelah perjalanan dari Bandung dan memasuki daerah Lembang, kita sudah disuguhi sayuran yang dipajang di pinggir jalan. Berbagai jenis sayuran itu diambil dari kebun sayur yang berada di daerah pegunungan sekitar Lembang, dan dijual dalam kondisi segar. Kita bisa memilih jenis-jenis sayuran dan buah-buahan sesuai selera kita dan membelinya. Harga sayuran ini pun bisa ditawar seperti layaknya di pasar tradisional.
Sementara itu, di balik kios-kios penjual sayuran, terlihat hamparan luas tanaman sayuran yang menghijau. Hamparan itu ada yang berada di lembah, dan ada yang berada di lereng perbukitan sehingga menambah keragaman topografi di daerah Lembang. Sangat jelas terlihat, hamparan hijau dalam areal yang tertata rapi. Ada pula hamparan cokelat tanah karena areal itu bekas dipanen. Memang sangat disayangkan, masih ada hamparan tanaman sayuran di lereng yang tingkat kemiringannya besar yang seharusnya lahan itu ditanami tanaman keras (pohon-pohonan). Sangat berbahaya membuka lahan tanaman sayuran di lereng seperti itu sebab akan mengakibatkan tanah longsor. Namun tampaknya hal itu bukan masalah bagi para petani sayur di Lembang. Mereka memilih menanam berbagai jenis sayuran karena memang lebih menguntungkan dibandingkan dengan menanam tanaman keras yang menghambat laju erosi.
Potensial
Harus diakui, jalan utama di Lembang dengan pemandangan alam yang demikian indah mempunyai nilai yang tinggi jika dilihat dari potensi wisata. Saat memarkir mobil di pinggir jalan untuk berbelanja sayur misalnya, kita dapat memandang jauh ke sekeliling kita. Mata menjadi segar kembali dan kita bisa menghirup udara segar pegunungan.
Selain menyaksikan indahnya panorama alam, ternyata di Lembang kita juga bisa mengetahui lebih jauh tanaman sayuran. Bisa dipastikan, saat ini banyak anak-anak, bahkan orang yang sudah dewasa , di Jakarta yang tidak mengetahui berbagai jenis tanaman sayuran atau pohon buah-buahan. Seperti buah apel, jeruk, salak, jambu, atau jenis sayuran tomat, wortel, cabai, pasti banyak yang sudah menikmatinya. Tetapi yang menjadi pertanyaan, apakah mereka sudah tahu seperti apa sebenarnya bentuk tanaman dari buah dan sayuran itu.
Dengan berbelanja langsung di Lembang, dan menyaksikan tanaman di kebun yang berada di pinggir jalan, kita akan bisa menyaksikan secara langsung jenisjenis tanaman sayuran yang sering kita makan. Kita bisa bertanya kepada para penggarap kebun sayuran dan meminta penjelasan jenis tanaman yang sedang digarapnya.
Namun, tentu saja hanya sedikit pengetahuan yang kita dapatkan. Karena itulah, peluang untuk menikmati kebun sayuran dan mendapatkan penjelasan secara memadai tentang berbagai jenis tanaman sayuran, benar-benar dimanfaatkan oleh Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Pertanian di Lembang.
Balitsa, dalam waktu dekat akan meluncurkan produknya yang tidak lepas dari bidang yang ditekuninya, yaitu wisata ilmiah sayuran (di Lembang) dan buahbuahan (di Subang). Wisata ilmiah tanaman sayuran sedang dipersiapkan di kebun percobaan Margahayu Lembang, sedangkan untuk buah-buahan dipersiapkan di kebun percobaan Subang.
Letak Balitsa yang berada di sebelah kiri jalan dari Bandung ke arah Subang ini, tepatnya di Jalan Tangkuban Perahu 517 Lembang, tidak sulit dijangkau, baik dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Setelah masuk gerbang kompleks Balitsa, kita bisa menyaksikan tanaman sayuran di lahan percobaan, serta tanaman yang sedang diteliti yang berada di rumah-rumah kaca (greenhouses). Tentu saja wisatawan yang akan memasuki lokasi wisata ilmiah tanaman sayuran tidak akan mengganggu penelitian yang sedang dilakukan oleh 80 peneliti Balitsa, karena lokasi kebun percobaan untuk penelitian berbeda dengan kebun yang akan “dijual” sebagai objek wisata ilmiah.
Pendidikan
Kendati objek wisata ilmiah sayuran dan buah-buahan ini belum jadi seluruhnya, Kepala Balitsa Dr Agus Muharam mengakui bisnis tersebut memiliki potensi yang sangat bagus. “Terutama dari sisi manfaat, akan banyak siswa atau orang awam yang bisa belajar dan mengetahui berbagai jenis tanaman sayuran. Ini sifatnya pendidikan,” katanya. Karena namanya wisata ilmiah, maka yang masuk lokasi ini juga berniat untuk belajar dan mengetahui secara mendalam tentang jenis sayuran dan buah-buahan. Jangan dibayangkan Anda berwisata di dalam laboratorium yang banyak preparat dan mikroskupnya. Di sini, kita disajikan berjenis-jenis tanaman yang telah diatur sedemikian rupa, dan pengaturannya juga mempertimbangkan aspek fungsi, kenyamanan, keindahan dan perawatan.
Lokasi wisata ilmiah ini juga akan menjadi area wisata, area hijau, daerah resapan air dan dapat menjadi pengendali lingkungan. “Kita berupaya untuk meningkatkan Balai Penelitian sebagai area yang multifungsi, sehingga memiliki nilai tambah,” kata Agus. Dilihat dari aspek sosial budaya, wisata ilmiah akan banyak membantu. Seperti diketahui, masyarakat Indonesia telah mulai meninggalkan cara-cara bertani/berkebun yang sebenarnya dahulu merupakan mata pencaharian yang utama. Di kebun percobaan ini nantinya akan dipelajari bagaimana membudidayakan tanaman dengan baik dan benar. Bisnis ini juga akan mengangkat citra masyarakat dan lingkungan sekitarnya, karena ada interaksi antara keduanya.
Kebun percobaan Margahayu yang akan dijadikan sebagai areal wisata ilmiah sayuran memiliki luas sekitar 30 hektare dengan tanah yang subur berjenis andosol, dan berada pada ketinggian 1.250 meter dari permukaan laut. Di lokasi wisata ini nantinya akan ada air terjun dan lokasi dilewati sungai yang berbatu-batu dengan banyak mata air. Karena berada di dekat Gunung Tangkuban Perahu, maka objek wisata ini akan menghidangkan pemandangan yang indah. Dengan kondisi topografi yang ada, maka selain sebagai lokasi wisata ilmiah, lokasi ini juga dipersiapkan untuk outbound, hiking dan jogging track. Wisata ilmiah ini mempunyai tema taman wisata yang membuat program dalam cara bertani yang baik dan memberikan penyuluhan-penyuluhan serta berekreasi dengan suasana pedesaan.
Wisatawan yang akan mengunjungi objek wisata ilmiah akan disambut pintu gerbang yang mempunyai karakter khusus. Gerbang ini tidak terlalu tinggi sehingga tidak mengganggu pemandangan keindahan taman wisata dari luar. Taman ini dilengkapi dengan plaza, yaitu ruang terbuka yang dibuat sebagai pusat lokasi dan bisa berfungsi untuk pertemuan. Bentuk plaza bulat yang dibuat seperti sebuah teater terbuka dengan arena pusat berada di bawah, sedangkan tempat duduk melingkar berbentuk teras-teras berurutan dari atas ke bawah.
Selain itu juga disediakan tempat parkir yang bisa menampung 30 buah kendaraan dan terletak di dalam sehingga tidak mengundang pedagang kaki lima untuk masuk. Untuk makanan dan minuman, akan disediakan kafetaria yang lokasinya berdekatan dengan air terjun, sehingga makanan dan minuman bisa dinikmati sambil menyaksikan air terjun.
Objek wisata juga dilengkapi dengan kios yang menjual cendera mata, mushola, gazebo atau pendopo yang bisa menampung 300 orang. Juga disediakan gazebo kecil untuk beristirahat dengan ukuran 2×2 meter persegi. Area outbound dan hiking dengan memanfaatkan potensi alam berupa kontur terjal, air terjun dan pohon besar dan pohon-pohon tua. Sebagai pusat objek adalah area pertanian. Di lokasi inilah para pengunjung dapat mempraktekkan cara bercocok tanam yang baik dan benar. Mereka juga bisa menanam dan memetik tanaman sayuran serta mempelajari tanaman sayuran itu.
Tanaman Asli
Selain mengenal jenis-jenis tanaman sayuran yang saat ini sudah banyak beredar di pasar, pengunjung juga bisa menyaksikan jenis tanaman asli Indonesia (indigenous vegetables) yang ternyata mempunyai khasiat khusus untuk kesehatan manusia. Berbagai jenis tanaman asli itu sekarang sedang diupayakan untuk dikumpulkan di Balitsa, dan kemudian akan dilakukan penelitian jenis-jenis tanaman yang bisa menyembuhkan penyakit.
Negara-negara ASEAN bersepakat untuk melestarian tanaman-tanaman aslinya. Balitbang Pertanian di negara-negara ASEAN saat ini telah membikin kebun untuk menanam, melestarikan tanaman asli tersebut. Selanjutnya dilakukan penelitian manfaat tanaman tersebut untuk kesehatan manusia. Untuk Indonesia lokasinya di Lembang.
Saat ini Balitsa sudah mendata, terdapat 87 jenis tanaman (spesies) dari 29 famili yang ada di Indonesia. Menurut Dr Anggoro, peneliti khusus tanaman sayuran dan buah-buahan asli Indonesia, dari jumlah itu memang ada beberapa tanaman yang belum bisa didatangkan ke Balitsa. Koleksi tanaman itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia, untuk selanjutnya akan dikembangkan sehingga bermanfaat bagi manusia.
Beberapa spesies tanaman itu adalah handeuleum (Grapthophyllum pictum), sambiloto (Andrographis paniculata), kedondong (Spondias pinnata), adas (Foeniculum vulgare), antanan (Centella asiatica), sladri (Apium graveolens). Kemudian mangkokan (Nothopanax scutellarium), beluntas (Pluchea indica), jotang (Spilanthes acmella), Legetan (Spilanthes iabadiensis), sembung (Blumea balsamifera).
Jenis tanaman lainnya adalah genjer (Limnocharis flava), pepaya (Carica papaya), godobos (Enydra fluctuans), kemandilan/jonge (Emilia sonchifolia), kenikir (Cosmos caudatus), sintrong (Erechtites valerinaefolia), selada air (Nasturtium officinale), baligo (Benincasa hibrida), blewah (Cucumis melo), gambas/oyong (Luffa acutangula), kemarongan (Coccinia cordifolia), labu kuning (Cucurbita moschata), labu mie (Cucurbita), labu parang (Lagenaria sicerana), labu siem (Sechium edule), paria (Momordica charantia), paria belut (Trichosanthes anguina).
Kemudian kemangi (Ocimum americanum), keresmen (Mentha arvensis var javanica), selasih (Ocimum basilicum), gude (Cajanus cajan), koro (Phaseolus lunatus), krokot (Portulaca grandiflora), kelor (Moringa oleifera), cincau (Cyclea Barbara), simbukan (Nearotis hirsute), takokan (Solanum torvum), dan kangkung (Ipomoea aquatic/reptans).
Dengan wisata ilmiah itu, maka sebuah terobosan telah dilakukan oleh Balitsa yang mempunyai tugas pokok melaksanakan kegiatan penelitian tanaman sayuran. Seperti mandat yang diberikan, Balitsa mempunyai visi sebagai institusi yang responsif, antisipatif, dan partisipatif dalam menciptakan, merekayasa dan mengembangkan Iptek untuk mewujudkan sistem dan usaha agribisnis sayuran yang berdaya saing, berkerakyatan dan berkelanjutan, serta terdesentralisasi. Arah dan strategi program penelitian sayuran adalah menghasilkan teknologi efektif dan dapat diterapkan, berorientasi agribisnis, dan mampu menjawab, mengantisipasi serta menciptakan kebutuhan pengguna. Balitsa juga diarahkan untuk memanfaatkan sumber daya alam secara optimal, memanfaatkan peta informasi global, dan mengakomodasi semua potensi internal untuk mengantisipasi persaingan global.
Ke depan, berkembangnya wisata ilmiah akan semakin mendukung sosialisasi produk-produk yang dihasilkan Balitsa kepada masyarakat. Lembaga ini pada akhirnya juga akan memberikan jasa yang cukup besar bagi warga negara Indonesia untuk mengenal dan mencintai tanaman sayuran yang diproduksi alamnya sendiri.
Salah satu karya BALITSA adalah kentang berkualitas berteknologi modern dari balitsa
Mulai dari varietas unggul baru, kentang bebas pathogen, hingga pada kentang toleran penyakit busuk daun hasil rekayasa genetika sudah berhasil dikembangkan oleh Balai Penelitian Sayuran (Balitsa) Lembang, Jawa Barat. Semua itu ditujukan untuk mendukung produksi kentang nasional yang belum optimal.
Kepala Balitsa, Dr. Ahsol Hasyim, ketika kunjungan wartawan Jakarta dalam rangakaian Lokakarya Peningkatan Kemampuan Tanggap/ Pemberitaan di Bandung pekan lalu menjelaskan saat ini sudah banyak inovasi dengan teknik-teknik modern dikembangkan oleh Balitsa, di antaranya berbagai verietas unggul, penggunaan teknologi rekayasa genetik dalam menghasilkan benih kentang bermutu, teknologi perbenihan yang menggunakan metode aerophonik hingga paket teknologi budidayanya.
Selama ini, kendala utama dalam peningkatan produksi kentang adalah pengadaan dan distribusi benih kentang berkualitas yang belum kontinyu dan memadai. Padahal saat ini, penggunaan benih bebas pathogen/berkualitas mutlak diperlukan.
Salah seorang peneliti di Balitsa yang melakukan penelitian kentang bebas pathogen, Asih K Karjadi menjelaskan, bibit bebas pathogen, bisa didapatkan melalui kultur jaringan disertai dengan pengujian pathogen secara intensif dan dilanjutkan dengan teknik perbanyakan cepat khususnya dengan menanam stek secara in vitro atau in vivo, untuk mendapatkan bibit kentang generasi nol (G0/benih sumber). Teknik inilah yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Sayuran (Balitsa) Lembang.
Selanjutnya G0 berupa stek dikirimkan ke BBI Pangalengan untuk diperbanyak di Screen House A dan menghasilkan mini tuber, yang selanjutnya secara berurut ditanam menjadi G1 (pada screen house) dan G2 (di lapangan). Perbanyakan dari G2 ke G3 dilaksanakan di BBU (PD Mamin/PD Agribisnis) Pangalengan yang selanjutnya diperbanyak menjadi G4 oleh para penangkar yang telah terlatih.
Kegiatan memproduksi benih kentang berkualitas baik dalam bentuk tanaman in vitro atau umbi mini dibagi dalam 4 tahap mulai dari eliminasi penyakit sistemik terutama virus, penggunaan teknik in vitro untuk tujuan perbanyakan vegetatif, aklimatisasi, dan produksi umbi mini kentang.
Dengan inovasi yang dikembangkan ini, benih kentang yang diproduksi dijamin akan bebas pathogen.


BIB (BALAI INSEMINASI BUATAN) LEMBANG
Sejarah Singkat
Balai Inseminasi Buatan (BIB) didirikan pada tanggal 3 April 1976 oleh Prof. Dr. Ir. Toyib Hadiwijaya. Balai Inseminasi Buatan (BIB) merupakan balai pertama di Indonesia yang memproduksi semen beku ternak besar seperti sapi perah dan sapi potong. Tetapi tidak hanya itu saja balai ini juga memproduksi inseminasi buatan pada sapi, tidak hanya pada sapi saja yang ada di balai ini tetapi ada juga kambing dan kerbau.
Balai Inseminasi Buatan (BIB) telah memproduksi semen beku lebih dari 2.000.000 dosis. Sebagai balai pertama yang didirikan di Indonesia. Balai Inseminasi Buatan (BIB) yang ada di Lembang yang luas lahannya sekitar 10 hektar yaitu 6 hektar untuk perumahan dan 4 hektar untuk perkebunan.
Selain Balai Inseminasi yang ada di Lembang ada juga Balai Inseminasi Buatan (BIB) yang ada di Singosari, tetapi Balai Inseminasi Buatan (BIB) di Lembang merupakan balai tertua di Indonesia.
Visi dan Misi BIB
Visi
Balai Inseminasi Buatan Lembang menjadi produsen semen beku ternak unggul untuk memenuhi kebutuhan inseminasi buatan secara tepat jenis, tepat waktu dan tepat jumlah, siap bersaing dalam era globalisasi 2010.
Misi 
Memproduksi semen beku benih unggul dari berbagai jenis ternak (sapi potong, sapi perah, kambing dan Domba), baik ternak lokal yang teruji maupun ternak unggul eks impor.
Menyediakan bibit ternak sapi (pejantan/bull) untuk memenuhi kebutuhan BIB Nasional dan Daerah.
Melaksanakan distribusi dan pemasaran semen beku benih unggul dan bibit ternak, sesuai permintaan daerah.
Meningkatkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari penjualan semen beku/bibit ternak dan hasil kerjasama dengan pihak ketiga.
Meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM), Peternak, Tenaga teknis IB, (lnseminator, Petuugas Handling Semen, PKB dll).
Meningkatkan dan mengembangkan kemammpuan personil balai dalam penyerapan teknologi mutakhir melalui dan pelatihan baik di dalam maupun di luar negeri.
Melestarikan dan memanfaatkan Sumberdaya Manusia (SDM) lokal berupa ternak pejantan unggul melalui seleksi, uji performans dan uji zuriat/uji progeny.
Mendorong terciptanya peluang dan kesempatan kerja dari pelaksanaan kegiatan inseminasi buatan serta pelayanan inseminasi buatan.
Melakukan pengembangan teknik dan metoda inseminasi buatan serta pelayanan inseminasi buatan.
Meningkatan kesejahteraan masyarakat petani peternak melalui pembinaan agribisnis peternakan dan ketahanan pangan asal hewan.
Melakukan promosi untuk pengembangan pasar lokal, nasional dan regional serta berupaya menembus pasar glogal (ekspor).
Tugas Pokok BIB
Melaksanakan produksi dan pemasaran semen beku ternak unggul serta pengembangan inseminasi buatan.
Fungsi BIB
1.Pemeliharaan ternak unggul
2.Pengujian keturunan dan felilisasi pejantan unggul
3.Produksi dan penyimpangaan semen beku
4.Pencatatan dan pemanfaatan semen beku serta pengawasan mutu semen
5.Pengembangan teknik produksi semen beku benih unggul
6.Pemberian saran teknik produksi semen beku benih unggul
7.Pemberian pelayanan teknik kegiatan pemeliharaan ternak dan semen beku
8.Pemberian informasi dan dokumentasi hasil kegiatan Inseminasi Buatan
9.Distribusi dan pemasaran semen beku unggul
10.Pengujian kesehatan dan diagnosa penyakit ternak
11.Urusan tata usaha dan rumah tangga balai.
Inseminasi Buatan
Teknologi modern pada zaman sekarang telah mampu mengatasi masalah kemandulan (bagi manusia) dan menghasilkan bibit-bibit unggul (bagi hewan yang dapat menguntungkan manusia), khususnya dalam bidang bioteknologi. Hal tersebut dapat dilakukan diantaranya dengan melalui inseminasi buatan.
Dari hasil kemajuan bioteknologi tersbut, sekarang telah tersedia inseminasi buatan, fertilisasi atau pembuatan in vitro dan rahim kontrak. Kemajuan bioteknologi tersebut apabila diterapkan pada dunia hewan, maka akan mendatangkan manfaat dan keuntungan bagi manusia. Namun, jika kemajuan bioteknologi diaplikasikan pada manusia, maka akan menghasilkan dampak yang positif dan dampak yang negatif. Dampak posotof dapat diambil dari orang-orang yang telah menikah, tetapi tidak bisa mempunyai anak, maka agar keinginan untuk mempunyai anak dapat terwujud, maka dapat dilakukan dengan melalui bayi tabung atau rahim kontrak. Sedangkan dampak negatifnya yaitu dapat menimbulkan kekacauan dalam sistem keturunan manusia.
Maka sejak tahun 1956 dewan gereja di Roma telah mengutuk kegiatan tersebut dengan alasan bahwa inseminasi buatan dapat memisahkan tindakan prokreasi (kasih sayang terhadap anak, dan anak adalah karunia Tuhan yang harus dijunjung tinggi) dan persatuan cinta. Alasan lainnya yaitu kegiatan inseminasi melibatkan tindakan masturbasi yang dibutuhkan untuk mengeluarkan sperma.
Sampai sekarang mayoritas para teolog moral masih berpegang pada sikap mengutuk terhadap kegiatan inseminasi buatan yang diterapkan pada manusia. Bagaimanapun juga pewaris sifat genetis yang terjadi pada anak melibatkan pihak ketiga bagi pasangan dalam perkawinan. Hal tersebut akan menimbulkan “celaan biologis” serta menyangkut psikologis anak itu sendiri dalam lingkungan sosialnya.
Kenyataannya sekarang, banyak para ahli psikologi yang masih berusaha keras untuk mewujudkan atau mengaplikasikan inseminasi buatan pada manusia. Namun, bagi pasangan suami istri yang akan melaksanakan inseminasi buatan dapat dilakukan atas dasar keputusan bersama guna mewujudkan pernikahan yang harmonis dan bahagia.
Cara Mereproduksi Semen Beku
Reproduksi semen beku hanya dapat dilakukan di Balai Inseminasi Buatan (BIB). Tahapan-tahapan dalam memproduksi semen beku diantaranya yaitu:
1.Mempersiapkan sapi pejantan yang akan diinseminasi yang umurnya 15 – 18 bulan, tingginya 123 cm dan beratnya minimal 350 kg.
2.Persiapan vagina buatan yang suhunya mencapai 420C, vagina buatan ini harus licin, karena itu gunakan vaseline agar licin seperti vagina yang asli
3.Penampungan semen sapi pejantan, sapi pejantan dan spai betina disatukan kemudian sapi-sapi itu akan melakukan fisin (pemanasan sebelum kawin), bila penis jantan telah kelihatan merah, tegang dan kencang, maka penis langsung dimasukan ke vagina buatan.
4.Kemudian sperma dalam vagina buatan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa.
Bila sperma berwarna hijau, ada kotoran yang terdorong
Bila sperma berwarna merah, segar, venis teriritasi
Bila sperma berwarna cokelat, venis ada yang luka
Bila sperma berwarna krem susu bening, maka itulah sperma yang bagus
5.Penentuan konsentrasi semen segar
6.Proses pengenceran sperma
7.Proses filing dan sealing, memasukan sperma ke dalam ministrow isi I strow 0,25 CC
8.Proses pembekuan
9.After throwing dan water intubator test
1.Proses pembuatan, Perawatan, Dan Pendistribusian Semen Beku
Reproduksi semen beku hanya dapat dilakukan di Balai Inseminasi Buatan (BIB). Tahapan-tahapan dalam memproduksi semen beku diantaranya yaitu:
1.Mempersiapkan sapi pejantan yang akan diinseminasi yang umurnya 15 – 18 bulan, tingginya 123 cm dan beratnya minimal 350 kg.
2.Persiapan vagina buatan yang suhunya mencapai 420C, vagina buatan ini harus licin, karena itu gunakan vaseline agar licin seperti vagina yang asli
3.Penampungan semen sapi pejantan, sapi pejantan dan spai betina disatukan kemudian sapi-sapi itu akan melakukan fisin (pemanasan sebelum kawin), bila penis jantan telah kelihatan merah, tegang dan kencang, maka penis langsung dimasukan ke vagina buatan.
4.Kemudian sperma dalam vagina buatan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa.
Bila sperma berwarna hijau, ada kotoran yang terdorong
Bila sperma berwarna merah, segar, venis teriritasi
Bila sperma berwarna cokelat, venis ada yang luka
Bila sperma berwarna krem susu bening, maka itulah sperma yang bagus
5.Penentuan konsentrasi semen segar
6.Proses pengenceran sperma
7.Proses filing dan sealing, memasukan sperma ke dalam ministrow isi I strow 0,25 CC
8.Proses pembekuan
9.After throwing dan water intubator test
Untuk Perawatan sapi tiga bulan sekali potong kuku, General cek up (darah dan semen)
Pendistribusian dan Pemasaran
Pemasaran semen beku dilakukankedarah-daerah yang melaksanakan kegiatan inseminasi buatan diseluruh indonesia meliputi Dinas Peternakan atau Dinas yang mengurusi fungsi peternakan Provinsi dan kabupaten/kota, koperasi peternakan dan swasta.
Pelayanan distribusi semen beku dibedakan menjadi 3 pola yang mencangkup pola subsidi/ APBN, pola kerja sama operasional (KSO) dan penjualan langsung.
Harga semen beku @Rp 6000,- per dosis franko BIB Lembang (belum termasuk ongkos kirim), sesuai peraturan pemerintah No.7 tahun 2004 tentang tarif PNBP yang berlaku dilingkungan Departemen Pertanian.
Hasil kerjasama dan hasil penjualan semen beku merupakan penerimaan fungsional yang disetor ke kas negara sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
2.Proses penyuntikan semen beku pada sapi atau domba yang dikawin suntik.
Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik adalah suatu cara atau teknik untuk memasukkan mani (sperma atau semen) yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut 'insemination gun'
Tujuan Inseminasi Buatan :
Memperbaiki mutu genetika ternak;
Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya;
Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama;
Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur;
Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin.
Keuntungan Inseminasi Buatan (IB)
Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan;
Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik;
Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding);
Dengan peralatan dan teknologi yang baik sperma dapat simpan dalam jangka waktu yang lama;
Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati;
Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar;
Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin.


Inseminator
Adalah tenaga teknis menengah yang telah dididik dan mendapat sertifikat sebagai inseminator dari pemerintah (dalam
hal ini Dinas Peternakan).
Jenis-Jenis Sapi
Sapi merupakan salah satu jenis hewan mamalia, yang berkembang biak dengan cara melahirkan. Pada dasarnya reproduksi mamalia sama seperti reproduksi pada manusia, terjadi secara seksual melalui proses fertilisasi.
Di Indonesia ada banyak jenis sapi. Ada sapi yang merupakan sapi lokal dan ada sapi keturunan.
1.Sapi Bali
Sapi Bali merupakan sapi lokal dengan penampilan produksi yang cukup tinggi. Penyebarannya telah menyebar luas di seluruh Indonesia, meskipun masih tetap terkonsentrasi di pulau Bali sampai saat ini kemurnian genetis sapi Bali masih terjaga karena ada undang-undang yang mengatur pembatasan masuknya sapi jenis lain ke pulau Bali.
Asal usul sapi Bali adalah Banteng yang telah mengalami penjinakan selama bertahun-tahun. Proses domestikasi (penjinakan) yang cukup lama diduga penyebab sapi Bali lebih kecil dibandingkan dengan Banteng.
Kemampuan reproduksi sapi Bali merupakan yang terbaik diantara sapi-sapi lokal. Hal ini disebabkan sapi Bali bisa beranak setiap tahun. Sapi Bali mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, sehingga sering disebut ternak perintis.
2.Sapi Ongole
Sapi Ongole merupakan keturunan sapi Zebu dari India. Berwarna dominan putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir di bawah leher dan berpunuk. Sifatnya yang mudah beradaptasi dengan lingkungan setempat menyebabkan sapi ini mampu tumbuh secara murni di pulau Sumba, sehingga disebut sapi Sumba Ongole (SO). Persilangan antara sapi Jawa asli (madura) dengan sapi Ongole secara grading up menghasilkan sapi yang disebut sapi peranakan Ongole (PO).
3.Sapi Fries Holstein (FH)
Sapi yang dipelihara dengan tujuan untuk mengahsilkan susu ini diintroduksi dari Belanda. Warnanya belang hitam dan putih dengan ciri khusus segitiga pada bagian dahi. Sapi yang tidak berpunduk ini memiliki pertumbuhan yang cukup tinggi, sehingga sapi-sapi jantannya sering dipelihara untuk digemukkan dan dijadikan sapi potong. Di beberapa daerah juga dilakukan persilangan antara sapi Jawa asli dengan sapi FH dengan pola grading up dan keturunannya lazim disebut sapi PFH.
4.Sapi Brahman
Sapi Brahman berasal dari India yang merupakan keturunan dari sapi Zebu. Di Amerika sapi ini dikembangkan cukup pesat karena pola pemeliharaan dan sistem perkawinan yang terkontrol, sehingga penampilan beberapa parameter produksinya melebihi penampilan produksi di negara asalnya. Sapi Brahman mampu beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan tahan gigitan caplak. Pertumbuhan sapi Brahman sangat cepat. Hal ini yang menyebabkan sapi ini menjadi primadona sapi potong untuk negara-negara tropis.
5.Sapi Madura
Sapi Madura merupakan hasil persilangan antara Bos Sandoicus dan Bos Indicus yang tumbuh dan berkembang di Madura. Sapi yang berpunuk ini dikenal dengan sapi jawa asli dengan warna kuning hingga merah bata. Terkadang terdapat warna putih pada moncong, ekor dan kaki bawah. Warna hitam terdapat pada telinga dan bulu ekor. Penyebaran sapi Madura telah mengalami erosi genetis, sehingga penampilan produksi yang diukur dari pertambahan berat.
Jenis-jenis sapi di Balai Inseminasi Buatan (BIB)
Di Balai Inseminasi Buatan ada 7 jenis sapi, yaitu :
1.Sapi hitam di panggung simental
2.Cokelat semua li mosin
3.Hitam putih Vresen Holenstain (VH)
4.Hitam Angus
5.Krem jenis Brahman Denole
6.Kopi susu jerse
7.Ongole krem pipih pantat
Tidak hanya sapi yang diproduksi di Balai Inseminasi Buatan, tetapi juga memproduksi :
Kerbau burah (bule item) bonga
Kambing dan domba
Kuda (sekarang tidak dikembangkan lagi)
Makanan sapi yang ada di BIB diantaranya rumput gajah, rumput Afrika, dan konsentrat (dedak, jagung, tepung, ikan, darah mineral dan tulang). Sapi di BIB tidak boleh terlalu gemuk apabila akan diinseminasi karena genetik sapi harus murni. Selain itu, untuk makanan sapi harus ditambahkan protein sebanyak 24%
BPPT (BALAI PEMBIBITAN TERNAK SAPI PERAH) LEMBANG

SEJARAH
UPTD Balai Pengembangan Perbibitan Ternak Sapi Perah(BPPT-SP) Cikole Lembang berdiri tahun 1952 dengan nama TamanTernak yang di prakarsai oleh Drh. Soedjono Koesoemohardjo berada di bawah Jawatan Kehewanan Priangan Barat yang kegiatan utamanya budidaya ternak sapi perah serta pengembangan komoditi ternak lainnya.
Pada tahun 1964 tanggungjawab Balai  diserahkan kepada Dinas Peternakan PropinsiDT I Jawa Barat, selanjutnya pada tahun 1983 berubah menjadi UPTD BalaiPembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak (BPT-HMT) Cikole Lembang.  Padatahun 1999 berubah kembali menjadi UPTD BPT-HMT Ternak Perah Cikole Lembang danpada tahun 2002 hingga saat ini sesuai dengan perda nomor 5 th 2002 menjadiUPTD Balai Pengembangan Perbibitan Ternak Sapi Perah (BPPT-SP) Cikole Lembang.
Berikut kepala-kepala BPPT dari awal berdiri sampai sekarang: Periode
1.Prof. Dr.Ing. B.J. Habibie  • 1974-1998
2.Prof. Dr. Rahardi Ramelan  • 1998-1998
3.Prof. Dr. Zuhal  MSEE • 1998-1999
4.Dr. A.S. Hikam  • 1999-2001
5.Ir. M. Hatta Rajasa  •  2001-2004
6.Dr. Kusmayanto Kadiman  •  2004-2006
7.Prof. Ir. Said Djauharsyah Jenie, Sc.D • 2006-2008
8.Dr. Ir. Marzan A. Iskandar • 2008-Sekarang
 
Lokasi dan Iklim
UPTD Balai Pengembangan Perbibitan Ternak Sapi Perah(BPPT-SP) Cikole Lembang berada di Desa Cikole Kecamatan Lembang KabupatenBandung yang memiliki jarak 22 Km di sebelah Utara Kota Bandung, 4 Km dariIbukota Kecamatan Lembang.  Memiliki ketinggian 1.200 m diatas permukaan laut dengan jenis tanah andosol.  Berdasarkan kondisi geografis dantopografinya, merupakan dataran tinggi dan beriklim dingin hingga sedang dengandata klimatologis, sebagaimana berikut :
Temperatur max :  24,6C
Temparatur min :  13,8C
Kelembaban :  80,5%
Curah hujan :  2,393 mm/tahun
Evaporasi :  3,4 mm/hari
Radiasi :  285 cal/cm
Luas Lahan danPemanfaatannya
Luas lahan yang dimiliki hinggasaat ini yaitu 61,54 hektar, dengan perincian 9,8 hektar di lokasi Cikole(tahun 1952) dan 51,74 hektar (pengembangan lahan tahun 2002 dan 2003) diInstalasi Subang tepatnya di Desa Dayeuhkolot dan Desa Sukamandi KecamatanSagalaherang serta Desa Bunihayu dan Desa Tambakmekar Kecamatan JalancagakKabupaten Subang.  Dari jumlah lahantersebut, 56,74 hektar diantaranya sementara ini dimanfaatkan untuk kebunrumput yaitu 5 hektar di Cikole dan 51,74 hektar di Instalasi Subang. Sedangkansisa lahan lainnya merupakan bangunan.
Populasi,Produksi Susu dan Hijauan Makanan Ternak        
Populasi ternak sapi perah yangdikelola saat ini (per awal Juni 2006) sebanyak 192 ekor, terdiri dari 79 ekorsapi perah dewasa (70 ekor laktasi dan 9 ekor kering),  28 ekor sapi muda dan 85 ekor sapi anak.  Sedangkan jumlah produksi yang dihasilkanberkisar 985 s.d 1.030 kg per hari atau rata-rata produksi per ekor per hari14,1 s.d 15,58 kg. Produksi susu tersebut berasal dari sapi perah laktasi yangsaat ini berada pada komposisi 7,14% periode laktasi awal,  38,6% periode laktasi tengah, dan   54,3% berada pada periode laktasi akhir.
Kemampuan produksi hijauan makanan ternak (HMT) ataurumput yang dihasilkan saat ini sebanyak 240 ton/Ha/tahun dari lokasi kebunrumput Cikole dan k.l. 140 ton/Ha/tahun dari Instalasi Subang.  Disamping itu di lokasi BPPT Sapi PerahCikole saat ini dimiliki pula kurang lebih 33 jenis hijauan dari jenis rumputdan legiuminosa dalam bentuk kebun koleksi.
Kerjasama Teknis dengan JICA-Jepang
Pada bulan Maret tahun 1997,menjadi lokasi utama (main site) Kerjasama Teknis Dairy Technology ImprovementProject antara pemerintah Indonesia cq. Direktorat Jenderal Peternakan denganpemerintah Jepang cq. Japan International Cooperation Agency (JICA) dalambentuk transfer teknologi bidang feeding and management, Milking Hygiene, HealthReproductive dan Forage Production and Utility serta bantuan fisik (bangunankandang, workshop, pasteurisasi, laboratorium susu) dan peralatan lainnya.




VISI DAN MISI
VISI
Pusat Unggulan Teknologi  yang  mengutamakan Kemitraan melalui Pemanfaatan hasil rekayasa teknologi secara Maksimum.
MISI
1.Memacu perekayasaan teknologi untuk meningkatkan daya saing produk industri
2.Memacu perekayasaan teknologi untuk meningkatkan pelayanan publik instansi pemerintah.
3.Memacu perekayasaan teknologi untuk kemandirian bangsa
FUNGSI UTAMA DAN TAMBAHAN
Fungsi Utama
BPPT mempunyai Tugas dan Fungsi untuk melaksanakan Kegiatan Pelayanan Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Reproduksi yang meliputi :
1.Pelaksanaan Pengamatan (Survailance) dan Pemantauan (Monitoring) Penyakit Hewan Menular) untuk mengetahui secara dini bila timbul wabah.
2.Mendiagnosa penyakit secara klinis, patologik dan laboratorik.
3.Melaksanakan Pencegahan, Pengobatan Penyakit Hewan serta Perawatan Hewan Sakit.
4.Melaksanakan Pemeriksaan dan Pengujian Kualitas Bahan Makanan asal Hewan
5.Melaksanakan penanganan reproduksi antara lain diagnosa kebuntingan, menolong kelahiran, inseminasi buatan, diagnosa kemajiran, kegiatan alih janin, dan gangguan reproduksi.
Fungsi Tambahan
1.BPPT sedang mengembangkan program komputer bagi tunanetra yang mampu membantu mereka mengakses informasi selayaknya manusia normal
2.Mengadakan program Memdengar (Membaca dan Mendengar) berupa pembaca dokumen (dokument reader).
3.Ada fungsi tambahan linux dengan lisan untuk konfirmasi di mana komputer selalu mengatakan apa yang sedang dikerjakan si tunanetra, sehingga dia tahu apa yang sedang dilakukannya di layar computer
4.Mengadakan program JAWS (Job Access With Speech) for Windows, suatu perangkat lunak Screen Reader dari AS.
5.Adanya teknologi bahasa dalam teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang merupakan prioritas nasional itu yakni speech recognition atau pengenal lisan, yang mengubah dari suara menjadi teks.
JENIS KAMBING/DOMBA dan SAPI YANG DIKEMBANGKAN
Kambing
1.Kambing Booted ini mulai dikembangkan sekitar tahun 1920, tapi semenjak tahun 1980 mulai punah.
Karakteristik kambing booted adalah :
Kuat dan lincah sesuai untuk hidup di daerah yang topografinya berbatu atau seperti di gunung gunung, yang keadaan cuacanya sangat ekstrim. Kambing ini bertanduk. Warna bulunya dari abu abu-coklat terang sampai merah-coklat gelap dengan tanda hitam atau coklat gelap pada kakinya yang tampak seperti memakai sepatu boot. Mempunyai janggut panjang kebelakang ( disebut manteli yang artinya melipat sedikit )
2.Kambing booted jantan Dahulu kala kambing ini dikembang biakkan untuk menjadi kambing perah/kambing susu, kambing potong dan kadang kala juga diambil bulunya untuk pembuatan mantel.
Related posts:
1.Kambing Bionda dell’Adamello
2.Kambing boer
3.Kambing gunung Altai
4.Kambing Argentata
5.Kambing pulau Arapawa
6.Kambing Bhuj
7.Kambing Anglo Nubian
8.Kambing Hitam Anatolia
Sapi
1.Sapi Bali
2.Sapi-sapi yang lain yaitu: sapi-sapi Indonesia yang dijadikan sumber daging: sapi Ongole, sapi PO (peranakan Ongole), sapi Madura, sapi Aceh, sapi Brahmana (India), sapi Aberdeen angus (Skotlandia), dan sapi Simental (Swiss).



KENDALA-KENDALA YANG DIHADAPI
HAMA DAN PENYAKIT
Penyakit
1.Penyakit antraks
Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan.
Gejala:
1.demam tinggi, badan lemah dan gemetar;
2.gangguan pernafasan;
3.pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul;
4.kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina;
5.kotoran ternak cair dan sering bercampur darah;
6.limpa bengkak dan berwarna kehitaman.
Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.
2.Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)
Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE.
Gejala:
1.rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening;
2.demam atau panas, suhu badan menurun drastis;
3.nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali;
4.air liur keluar berlebihan.
Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.
3.Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)
Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri.
Gejala:
1.kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan;
2.leher, anus, dan vulva membengkak;
3.paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua;
4.demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam.
Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.
4.Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)
Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor.
Gejala:
1.mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh;
2.kulit kuku mengelupas;
3.tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit;
4.sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.
Pengendalian
Pengendalian penyakit sapi yang paling baik menjaga kesehatan sapi dengan tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan untuk menjaga kesehatan sapi adalah:
1.Menjaga kebersihan kandang beserta peralatannya, termasuk memandikan sapi.
2.Sapi yang sakit dipisahkan dengan sapi sehat dan segera dilakukan pengobatan.
3.Mengusakan lantai kandang selalu kering.
4.Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai petunjuk.











Sapi baru melahirkan masih tampak plasentanya




Anak sapi berusia ±5 jam








Kandang laktasi




Alur pipa pemerasan susu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar